Buat Om Dodik dan Tante Selly

Yth. Tante

Iklan

Ini Cuplikan foto Nikah Kami

Kami bertemu di kala kuliah di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)

Di fakultas dan jurusan yang sama Ekonomi Akuntansi

Saya 2 tingkat di atas dia

Semua di di mulai saat mengopspek dia (hehehe penyakit opspek)

Rompi yang saya pakai adalah rompi senat fakultas ekonomi

****

Pertama kali dia yang kesengsem sama aku (eh keliru, aku duluan yang naksir dia)

Dalam fikiranku kok ada orang Madura yang cantik

****

Dan perjalanan waktu akhirnya mempertautkan kami dalam pernikahan

Pada tanggal 4 February 2000 di Darih Pangpajung Modung Bangkalan Madura

Kami Berduapun Menikah

****

Dihadapan kedua orang tua kami

Dan mengharap ridlo orang tua kami (mengingat ridlo Allah tergantung ridlo orang tua kami)

Kami Berjanji Membentuk Keluarga Sakinah

Dadang-Ningrum (DANI)


Keluargaku, tempat kami berlabuh

Merekalah yang membuat hidupku kembali

Istriku

Siti Ningrum Irawati, Berasal dari Bangkalan Madura,

lama tinggal di Malang, sekarang jadi guru SMP di Bangkalan

****

Anak Pertamaku Ahmad Burhan Dani Pratama

(Lahir di RS Syaiful Anwar Malang 5 Oktober 2000)

****

Anak Keduaku Ahmad Maulana Dani Akbar

(Lahir di RS Aisyiah Malang 15 Februari 2003)

****

Anak Ketigaku Ahmad Adli Dani Syaukani

(Lahir RS Haji Surabaya 16 Juli 2007)

***

Ya Allah

Jadikanlah apa-apa yang ada di sisiku, keluargaku dan anak-anakku penyejuk mata kami

dan jadikanlah kami semua pemimpin orang-orang yang bertaqwa


Kesendirianku

aku bapak ibu dan adikku

Bapak Ibu Aku dan Adik – adikku

Namaku Dadang Safaat, SE ( lahir di Kota Pahlawan Surabaya, 10 Sept 1973

sekarang menetap di Blega Bangkalan Madura)

Anak Pertama dari 4 Saudara

****

Adik – Adikku :

– Ir. Danang Hidayat (Lahir di Surabaya, 1 Agustus 1975)

Dody Kurniawan, ST(Lahir di Jakarta, 24 September 1977)

Dimas Rahmat Pamungkas, SPsi (Lahir di Surabaya, 19 Januri 1980)

****

Bapakku Tatang Yusuf, H, Ir (Alm) lahir 3 February 1942 berasal dari Limbangan Garut  Jawa Barat

Dahulu beliau Seorang Perwira Angkatan Laut, yang berdinas di Armada Timur dan PT. PAL Surabaya

Beliau meninggal tanggal 22 February 2008 di RS Haji Surabaya

Beliau yang mengajari kami tentang Islam dan tentang hidup ini

Kata orang, beliau adalah seorang ustad, juga orang yang mukhlisin

Hidupnya sebagian besar untuk masjid dan umat

****

Ibuku Rr. Subranti Rahayu (Alm) lahir 9 January 1948 berasal dari Tegal Jawa Tengah

Dahulu beliau adalah Seorang Apoteker

Beliau meninggal tanggal 1 Juni 2005 di rumah kami Semolowaru Bahari II/ 8 Surabaya

Beliau yang mengajari kami tentang kejujuran dan kesederhanaan hidup

****

Rasa cinta Ikhlas mereka berdua terhadap kami takkan pernah terbalas oleh siapapun

Tanpa mereka berdua tiada berarti hidup kami

Tanpa mereka juga kami mungkin tak bisa berdiri tegak di muka bumi

****

Terimakasih bapak-ibu

Doa kami menyertai engkau berdoa di alam baka

Semoga kami bisa meneruskan cita-cita engkau berdua

Semoga kami bisa menjadi anak sholeh yang selalu berdoa buat engkau berdoa

Suatu saat nanti kami pasti akan menyusul engkau berdoa

Semoga kelak kita bertemu di surga Allah

****

Blega – Bangkalan 1 Oktober 2008

Bertepatan dengan 1 Syawal 1429 H


Catatan Harian Seorang Anak Tentara

DOA SEORANG PRAJURIT ANGKATAN LAUT DAN ISTRINYA

****

YA ALLAH,

BENTUKLAH PUTERAKU MENJADI MANUSIA YANG CUKUP KUAT

UNTUK MENYADARI MANAKALA IA LEMAH

DAN CUKUP BERANI MENGHADAPI DIRINYA SENDIRI MANAKALA IA TAKUT

MANUSIA YANG MEMILIKI RASA BANGGA DAN KETEGUHAN DALAM KEKALAHAN,

RENDAH HATI SERTA JUJUR DALAM KEMENANGAN

****

YA ALLAH,

BENTUKLAH PUTERAKU

MENJADI MANUSIA YANG KUAT DAN MENGERTI

BAHKAN MENGETAHUI DAN KENAL AKAN DIRINYA SENDIRI

****

YA ALLAH,

JANGANLAH PUTERAKU DIBIMBING DI ATAS JALANYANG MUDAH DAN LEMAH

BIARLAH KAU BIMBING DIBAWAH TEMPA

DAN DESAKAN KESULITAN TANTANGAN HIDUP

BIMBINGLAH PUTERAKU,

SUPAYA TEGAK BERDIRI DITENGAH BADAI

BERBELAS KASIH PADA MEREKA YANG JATUH

****

YA ALLAH,

BENTUKLAH PUTERAKU,

MENJADI MANUSIA YANG BERHATI BENING

DENGAN CITA MININGGI LANGIT,

****

SEORANG PUTERA YANG MAMPU MEMIMPIN DIRINYA SENDIRI

SEBELUM BERHASRAT MEMIMPIN ORANG LAIN

****

SEORANG PUTERA

YANG MENJANGKAU HARI DEPAN

TAPI TIDAK MELUPAKAN MASA LAMPAU

****

YA ALLAH,

DAN SETELAH SEGALA MENJADI MILIKNYA

SEMOGA PUTERAKU DILENGKAPI HATI YANG RINGAN

UNTUK  MENARI SERTA SELALU BERSUNGGUH HATI

SERTA SELALU BERBELAS KASIH TERHADAP SESAMA

****

YA ALLAH,

BERIKAN KEPADANYA KERENDAHAN HATI

KESEDERHANAAN YANG HAKIKI

PIKIRAN CERAH DAN TERBUKA BAGI SUMBER KEARIFAN

DAN BAGI KELEMBUTAN

DARI KEKUATAN SEBENARNYA

****

DAN AKU ORANG TUANYA AKAN BERBISIK :

“ HIDUP KAMI TIDAKLAH SIA – SIA “


Dari Ibu Kita Mengingat Allah

Dari Ibu, Kita Belajar Mengenal Allah
sumber : Era Muslim

“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula).” (QS. Al AhQaaf 46:15)

“Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Ku lah kembalimu.” (QS. Luqman 31:14)

Dari Abu Hurairah r.a, katanya: “Seseorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah Saw, “Ya, Rasulullah, siapakah dari keluargaku yang paling berhak dengan kebaktianku yang terindah?” Jawab beliau, “Ibumu!, kemudian ibumu, kemudian ibumu, kemudian bapakmu, kemudian yang terdekat kepadamu, yang terdekat”. Sahabatku tercinta rahimakumullah, bukankah Ibu adalah orang pertama yang kita kenal ketika hadir di alam ini? Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur. (QS. An-Nahl 16:78)

Beliau sambut kehadiran kita dengan penuh senyum kebahagiaan. “Alhamdulillah,” ucapnya lirih, betapa Allah Maha Kuasa, sungguh peristiwa melahirkan adalah suatu peristiwa yang teramat sangat luar biasa bagi seorang wanita. Tak terbayangkan betapa menderita berjuang antara hidup dan mati. Tiada peduli urat-urat beliau terputus, Masya Allah, betapa sungguh tak ternyana sakitnya

Tapi beliau ikhlas, “Untuk anakku tercinta akan kukorbankan seluruh jiwa raga”. Betapa mulia seorang ibu, beliau sabar memelihara, menjaga, merawat, dan membesarkan kita. Duh ketika keremangan malam yang dingin ia dapati kita menangis. Beliau terjaga, beranjak bergegas menghampiri, memberikan apa yang kita pinta. Masya Allah . Beliau sangat sayang dan begitu pengasih, ketika kita sudah bisa bermain, berlari terkadang ibu memarahi kita, “Jangan main di sini anakku… nanti kotor, jangan begini begitu karena tidak baik!”. Semua itu dilakukannya karena tidak ingin kita celaka…

Ketika kita beranjak dewasa, perlu makan beliau rela tak makan demi kita kasih sayangnya begitu tulus tanpa pamrih tak mengharapkan apa-apa kecuali kita sehat dan selamat. Hari berganti hari detik, menit, waktu akhirnya kita sadari hakikat keberadaan diri ini. Jadi… terbuktilah bagaimana Allah Swt itu Ar Rahmaan dan Ar Rahiim, Maha Pengasih dan Maha Penyayang, Dengan Cinta-Nya Ia memperkenalkan diri-Nya melalui perantara seorang Ibu. Kalau ibu saja begitu, apalagi Allah yang menciptakan kita? Subhanallah, Walhamdulillah, Walaa ilaa ha ilallah, Wallaahu Akbar. Karena pengorbanan Ibu yang tak terhingga itulah, Allah mewajibkan (memerintahkan) kita supaya berbakti (berbuat baik) kepada beliau.

“Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS. Al-Isra? 17:23)

“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo’a: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni’mat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau Ridhai: berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”. (QS. Al AhQaaf 46:15).

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”. (QS. Al-Isra’17:24)

Dari Abu Hurairah r.a, katanya: “Seseorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah Saw, ‘Ya, Rasulullah, siapakah dari keluargaku yang paling berhak dengan kebaktianku yang terindah?’ Jawab beliau, ” Ibumu! Kemudian ibumu Kemudian ibumu, Kemudian bapakmu, kemudian yang terdekat kepadamu, yang terdekat.

Perbandingan cinta menurut Rasulullah kepada Ibu dibanding Bapak adalah 3:1. Berbakti sebaik-baiknya pada orangtua juga merupakan jihad yang Allah janjikan sangat besar pahalanya. Sebagaimana sabda Beliau Saw: Dari Abdullah bin Amru bin Ash r.a. katanya: Seorang laki-laki datang menghadap Rasulullah Saw. Lalu dia berkata: “Aku bai?at (berjanji setia) dengan Anda akan ikut hijrah dan jihad, karena aku mengingini pahala dari Allah. Tanya Nabi Saw, “Apakah orangtuamu masih hidup? Jawab orang itu, “Bahkan keduanya masih hidup”. Tanya Nabi Saw, “Apakah kamu mengharapkan pahala dari Allah?” Jawabnya, ” Ya!” Sabda Nabi Saw, “Pulanglah kamu kepada kedua orangtuamu, lalu berbaktilah pada keduanya sebaik-baiknya!”. Besar pahalanya juga seimbang dengan besar dosanya jika tidak berbakti padanya.

Dari Abu Hurairah r.a, dari Nabi Saw sabdanya: “Dia celaka! Dia celaka! Dia celaka!” Lalu beliau ditanya orang, ” Siapakah yang celaka, Ya Rasulullah?” Jawab Nabi Saw, ” Siapa yang mendapati kedua orang tuanya (dalam usia lanjut), atau salah satu keduanya, tetapi dia tidak berusaha masuk surga (dengan merawat orang tuanya sebaik-baiknya)”.

Bukti kecintaan Rasulullah kepada Ibu, dapat dilihat dibawah ini, Dari Fadhal r.a, katanya: Seorang perempuan dari Khats’am bertanya kepada Rasulullah Saw, katanya: ” Ya, Rasulullah! Bapakku sudah tua renta, kepadanya terpikul kewajiban menunaikan ibadah haji, sedangkan dia sudah tak sanggup duduk di punggung untanya, bagaimana itu? Jawab Rasulullah Saw, “Hajikanlah dia olehmu!” Dari Aisyah r.a., katanya : Seorang laki-laki datang bertanya kepada Rasulullah Saw, ” ya Rasulullah! Ibuku meninggal dengan tiba-tiba dan beliau tidak sempat berwasiat. Menurut dugaanku, seandainya dia sempat berbicara, mungkin dia akan bersedekah. Dapatkah beliau akan pahalanya jika aku bersedekah atas nama beliau?” Jawab Rasulullah Saw, ” Ya, dapat!” Dari Ibnu Abbas r.a., katanya: “Sa’ad bin Ubadah pernah minta fatwa kepada Rasulullah Saw. Tentang nazar ibunya yang telah meninggal, tetapi belum sempat ditunaikannya. Maka bersabda Rasulullah Saw, “Bayarlah olehmu atas namanya!” ” Bagaimana jika Orangtua kita menyuruh untuk mepersekutukan Allah? “Allah Berfirman: “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS Luqman 31:15).

Dari Asma? binti Abu Bakar r.a., katanya: “Ketika terjadi gencatan senjata dengan kaum Quraisy, ibuku yang ketika itu masih musyrik mendatangiku. Lalu aku minta izin kepada Rasulullah Saw. Seraya berkata:” Ya Rasulullah! Ibuku mendatangiku, karena beliau rindu kepadaku. Bolehkah aku menemuinya?”. Jawab rasulullah Saw, ” Ya, boleh! Temuilah ibumu!” Begitu besar perhatian Allah dan kekasih-Nya pada orangtua kita. Walaupun Beliau (orangtua) menyuruh kita mepersekutukan Allah, Allah dan Rasul tetap mengharuskan kita untuk berbuat baik kepada orangtua kita.

Karena itulah sahabatku, Janganlah cinta kita pada seseorang melebihi cinta kita pada ibu. Bukankah peran seorang ibu sangat besar dalam kehidupan ini?! Kita terkadang tidak menyadari setelah kita dewasa, tidakkah kita terpikir mampukah kita membalas kasih sayang orang tua kita?.

Sahabatku, seorang lelaki dikatakan baik jika ia mampu menghargai seorang wanita. Dan wanita itu dikatakan mulia jika ia senantiasa menghargai dirinya. Tidak ada bekas ibu ataupun bekas anak. Dan jika rasa cintamu pada ibu lebih besar, Insya Allah… Para laki-laki shalih akan merasa bahwa kelak pendampingnya adalah anugerah terindah yang diberikan Allah Swt pada dirinya, dan tidak akan mampu mencari penggantinya.

Para wanita shalihat akan selalu belajar menutupi kekurangannya, karena ia yakin bahwa “saya adalah yang terindah” dihatinya… Dari Abdullah bin Umar r.a., katanya Rasulullah Saw, bersabda: “Dunia ialah kesenangan. Sebaik-baik kesenangan dunia ialah perempuan yang saleh”.

Jika para laki-laki shalih mendapati pasangannya suatu kekurangan, sungguh itu tak sebanding dengan kelebihannya. Maka itu bimbinglah sahabat sejatimu menjadi sempurna dengan bimbingan yang bijaksana, sebagaimana Rasulullah membimbing.

Dari Abu Hurairah r.a., katanya Nabi Saw bersabda: “Siapa yang iman dengan Allah dan hari kiamat, maka apabila dia menyaksikan suatu peristiwa, hendaklah dia menanggapi dengan baik atau diam. Bijaksanalah membimbing wanita, karena wanita itu diciptakan dari tulang rusuk. Dan bahagiannya yang paling bengkok ialah yang sebelah atas. Jika engkau berusaha meluruskannya, niscaya dia patah. Tetapi jika engkau biarkan, dia akan senantiasa bengkok. Karena itu bijaksanalah membimbing wanita dengan baik.”

Dan hidup ini akan selalu menyapu kesejukan dan keteduhan dalam diri kita semua. Membentuk keluarga sakinah, mawaddah, warahmah dan senantiasa diberkahi Allah Swt. Aamiin, Ya Rabbal aalamiin.

Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku pada kedua ibu bapakku dan sekalian orang-orang mu’min pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)”. (QS. Ibrahim 14:41)